Qunut

QUNUT

Oleh: KH. Muchtar Adam, Drs.

 
            Qunut adalah menghambakan diri dengan taat, patuh kepada Allah Swt. dengan menghambakan ketaatan diri (Ibadah seorang ‘abid) hamba senantiasa beramal saleh, menghindari segala maksiat, baik lahir maupun batin, dan seluruh lintasan qalbunya tidak kosong dari dzikrullâh (ingat pada Allah).

 

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Zumar (39) ayat 9 :

أمن هو قانت آناء الليل ساجدا وقائما يحذر الآخرة ويرجو رحمة ربه قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكر أولوا الألباب

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

 

Ciri-ciri qunut dalam ayat ini ialah :

1. Orang-orang yang beribadah diwaktu malam. Untuk ini ada dua macam pendapt :

Pertama : Orang yang melaksanakan salat  Maghrib dan Isya sudah termasuk beribadah diwaktu malam.

Kedua : Orang yang melaksanakan salat tahajud dan salat-salat sunat lain. Mereka memahami dari ayat Al-Muzzammil (73) ayat 1-4 .

يا أيها المزمل. قم الليل إلا قليلا. نصفه أو انقص منه قليلا. أو زد عليه ورتل القرآن ترتيلا.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.

 

Allah Swt. memerintahkan agar bangun diwaktu malam, menunjukkan tahajjud itu harus tidur lebih dahulu dan bangun diwaktu malam itu ditengahnya atau dua pertiga malam.

 

2. Tujuan hidupnya ialah semata-mata untuk mendapatkan Rahmat Allah Swt. Diantara manusia (mukmin) ada yang beribadah, berjuang dan beramal untuk mencari rela Allah Swt. ini digambarkan oleh Allah Swt. dalam Al-Quran Surah Al Baqarah (2) ayat 207 :

ومن الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله والله رؤوف بالعباد

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

 

3. Gambaran yang jelas bahwa orang yang berilmu itu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu. Hal ini mendorong kita untuk senantiasa menuntut ilmu pengetahuan karena Allah Swt. telah menegaskan (Surah Al Mujahadah (58) ayat 11 :

يا أيها الذين آمنوا إذا قيل لكم تفسحوا في المجالس فافسحوا يفسح الله لكم وإذا قيل انشزوا فانشزوا يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Gambaran ini mendorong manusia untuk berpacu mengejar ilmu pengetahuan, baik tentang makrifat (iman) dan ketaqwaan kepada Allah, maupun tentang science dan teknologi. Karena mereka itulah yang memiliki derajat yang tinggi. Ini dipertegas oleh Allah Swt. dalam Surah Fathir (35) ayat 28 :

ومن الناس والدواب والأنعام مختلف ألوانه كذلك إنما يخشى الله من عباده العلماء إن الله عزيز غفور

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.

 

PERINTAH QUNUT

 

A. Perintah Langsung.

Surah Ali Imran (3) ayat 43 :

يا مريم اقنتي لربك واسجدي واركعي مع الراكعين

Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang rukuk.

 

Abdullah bin Abbas dalam kitab : Tanwir Al Miqbas min Tafsir Ibnu Al Abbas menterjemahkan ayat ini dengan :

1.      Taatlah kepada Tuhanmu karena syukur kepada-Nya.

2.      Panjangkanlah berdiri dikala salat sebagai syukur kepada Tuhanmu.

 

Rukulah dan sujudlah dengan amr (perintah) yaitu ruku dan sujud bersama ahli salat.

 

Imam Jalaluddin Al Suyuthi menterjemahkan dan menafsirkan ayat ini sebagai berikut :

Qunutlah kamu :

1. Ikhlaskanlah ibadah dan tunaikanlah ketaatan (kepada Allah).

2. Sujudlah dan rukulah bersama-sama orang-orang yang ruku :

3. Khusyu dan tunduklah bersama orang-orang yang tunduk.

Imam Al Suyuthi menafsirkan ayat ini dalam kitabnya “Al Ikil fi al Isthimbathi al Tanzil” hal 69.

 

            Ayat ini menggambarkan sebahagian rukun-rukun salat diantaranya : berdiri, ruku, sujud, dan ayat ini sebagai dalil bahwa wâwu (و) bukan menunjukkan tertib, dan bahwa berjamaah itu dituntut dalam salat, serta menunjukkan bahwa perempuan itu sunnat berjamaah.

Jadi qunut dalam hal ini meliputi kepatuhan dan ketundukan dalam menghambakan diri (ibadah) kepada Allah Swt.

            Walau Syaikh Jalaluddin al Suyuthi penganut mazhab Syafi’i, tetapi beliau banyak berijtihad dengan metoda isthimbath dan istidlal, menyalahi atau berbeda dengan Imam Al Syafi’i contohnya tentang sunatnya perempuan salat berjamaah di mesjid.

 

 

 

B. Perintah Tidak Langsung.

 Surah Al Baqarah (2) ayat 238 :

حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين

Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) salat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.

 

Pembahasan kita adalah masalah qunut. Tetapi pembahasan kita tidak dapat dilepaskan dengan membahas ayat ini sebelum membahas masalah qunut. Umumnya mufassir (Ulama Tafsir) cendrung bahwa “al Shalawât” dalam ayat ini mencakup seluruh salat fardu. Dikalangan sahabat Nabi yang berpendapat demikian ialah Muaz bin Jabal.

 

Adapun “al Shalâtu al wustha” para Mufassir berbeda pendapat :

            Di dalam Tafsir Al Durru Al Mantsur, Imam Al Suyuthi mengungkap 55 pendapat. Sedang Imam Ibnu Katsir mengungkap 22 riwayat dan Imam Al Qurthubi mengemukakan 10 pendapat.

 

الجامع لأحكام القرآن

3 : 213-214 : QUNUT

Al Baqarah (2) : 238

وقوموا لله قانتين

1. Artinya qunut di dalam salat :  معناه : في صلاتكم قانتين

Kata Al Syu’ba: طائعين : taat kepada Allah. Demikian juga pendapat Jabir bin Zaid, Atha dan Said bin Jubair.

Imam Al-Dhahhak berpendapat : seluruh qunut di dalam Al-Quran (12 ayat) 13

    Kali/ kata di dalam Al-Quran berarti “taat”. Ini dikemukakan oleh Abu Said dari Nabi Saw.

قومونالله قانتين = قومونالله طائعين

Berdirilah dalam salatmu dengan qunut. Artinya berdirilah dalam salatmu dengan taat.

2.  Tetapi Imam Mujahid mengartikan  qânitîn ialah khusyu’. Ini pula yang dikutip oleh DEPAG RI.  di  dalam terjemahnya (hal 58)

3.  Qunut ialah memanjangkan ruku, khusyu serta memejamkam mata dan merendahkan diri.

4.  Imam al-Rabi berpendapat, Qunut ialah Thûl li al qujâm: memanjangkan di dalam berdiri dalam salat.

Rasulullah bersabda:

أفضل الصلاة طول القنوت.

Seutama-utama salat ialah memanjangkan qunut (HR: Muslim dan selainnya)

5.  Riwayat Ibnu Abbas:

            Mereka qunut: قانتين artinya داعين : mereka berdoa.

Hadis Rasulullah Saw. ” beliau qunut satu bulan mendoakan penduduk Ri’li dan dzak wa’an (duanya disebut salîm).

Sebagian berpendapat artinya ” bedoa”

6.  Pendapat sebagian ialah “memanjangkan di dalam berdiri”

7. Imam Al-Sudiyyu berpendapat: قانتين ialah   ساكـتين : mereka diam, berdasarkan dalil bahwa ayat ini turun untuk mencegah berbicara di dalam salat yang pada permulaan Islam masih boleh.

            Dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata:

كنا نسلم علي رسول الله .ص. م. وهو في الصلاة فريد علينا. فلما رجعنا من عند النجاشي سلمناعليه فلم يرد علينا فقلنا : يا رسول الله، كنا نسلم عليك في الصلاة فترد علينا ؟ فقال: ان في الصلاة شغلا.

Kami memberi salam kepada Rasulullah Saw. sedang ia salat maka beliau menjawab kepada kami. Tetapi ketika kami kembali dari Najasyi kami memberi salam tetapi beliau tidak menjawab, maka kami bertanya: kami memberi salam kepada anda di dalam salat kenapa tidak di jawab? Nabi bersabda: “sesungguhnya di dalam salat itu ada kesibukan” (HR: Muslim)

 

روي زيدبن ارقم قال:كنا نتكلم في الصلاة يكلم الرجل صاحبه الي حنبه في الصلاه حتى نزلت : وقوموالله قانتين. فامرنابالسكوت ونهيناعن الكلام.

Diriwiyatkan oleh Zaid bin Arqam dia berkata:” kami ngobrol di dalam salat, seseorang berbicara dengan sahabatnya disampingnya sedang dia salat, maka turunlah ayat ini:  قوموالله قانتين “Tegaklah karena Allah di dalam salat dengan diam. Maka kami diperintahkan untuk diam /tenang dan melarang kami bercakap-cakap.

 

Adapun arti qunut menurut bahasa ialah: الدوام علي الشي “Mendawamkan terhadap sesuatu.”

Yaitu disiplin melakasanakan sesuatu secara terus-menerus, maka memdawamkan di dalam ketaatan adalah qunut, demikian juga siapa yang memanjangkan berdiri dan memanjangklan bacaan salat serta berdoa di dalam salat, atau memanjangkan khusyu’ dan diam serta tenang, semuanya itu melakasanakan qunut.

 

Abu Umar berkata: sudah sepakat seluruh kaum Muslim bahwa bercakap-cakap di dalam salat dengan sengaja merusak salatnya. Adapun pendapat Imam Awzâ’iq, bahwa berkomunikasi di dalam salat karena akan membela seseorang yang akan berbahaya atau terjatuh ke jurang yang akan menyebabkan kematiannya, pendapat ini lemah, sesuai firman Allah Swt.  قوموالله قانتين

Kata Zaid bin Arqam, kami ngobrol di dalam salat, maka ayat ini turun

وقال ابن مسعود سمعت رسول الله ص.م. يقول: ان الله احدث من أمره الا تكلموا في الصلاة.

Berkata Ibnu Mas’ud: saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: sesungguhnya Allah menyampaikan perintahnya agar tidak berkomunikasi di dalam salat.

 

8.  Al-Qunût (القنوت ) berarti (القيام ) yaitu berdiri. Firman Allah: salat fardu harus dilaksanakan berdiri selama sanggup dan sehat, tidak ada halangan:  وقوموالله قانتين“tegaklah salat karena Allah dalam keadaan berdiri”.

 

Para ulama telah sepakat bahwa berdiri dalam salat ialah fardu bagi orang yang sanggup, sehat tidak ada halangan, baik salat sendirian atau berjamaah.

Hanya timbul perbedaan pendapat dikalangan ulama jika salat dibelakang imam yang sakit sedang ia tidak bisa berdiri, maka imam saat salat sambil duduk, apakah makmum juga salat sambil duduk?

 

Pertama:

Jumhur (umumnya) ulama berpendapat bahwa jika imam salat duduk karena sakit, maka makmum semuanya juga mengukuti imam. Hal ini berdasarkan hadis nabi Saw.

إذاصلّى جالسا فصلّواجلوسا أجمعون.

Apabila imam salat duduk maka makmum hendaknya salat sambil duduk semuanya.

 

Kedua :

Sebagian ulama membolehkan salat berdiri di belakang imam yang sakit (salat sambil duduk) berdasarkan sunnah Nabi, ketika sakit beliau jadi Imam dan Abu Bakar Al-Shiddiq dengan sahabat yang lain salat berdiri.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa pendapat kedua ini telah menghapus pendapat pertama, karena sunnah Nabi ini yang terakhir dikerjakan oleh Nabi Saw.

 

Ketiga:

Imam Malik mengatakan yang paling masyhur ialah bahwa tidak boleh makmum kepada orang salat duduk (yang sakit) sedang makmum harus berdiri. Kalau dia ikut salat maka harus diulang lagi. Mereka berdalil kepada hadis Abu Mush’ab yang dikeluarkan oleh Al Dâruquthni dari Jabir dari Syu’ba nabi bersabda :

لايؤمن احد بعدي جالسا

“Tidak boleh mempercayakan (Imam) salah seorang diantara kamu sesudahku sambil duduk.

 

Imam Abu Hanifah dan Abu Yusuf berkata : Salatnya imam dan makmum jaiz (boleh). Yang benar ialah pendapat yang menyatakan bahwa sah salat sambil duduk, jika imamnya orang sakit dan duduk dalam salatnya (jaiz), Imam Abu Hatim Muhammad bin Hibban al Bustiyyi di dalam musnad sahihnya dari Abdullah bin Umar menyatakan bahwa Rasulullah Saw. dalam perjalanan dengan sahabat-sahabatnya terus bersabda :

“Apakah kamu semua mengetahui sesungguhnya aku adalah Rasulullah Saw. kepada kamu sekalian?, mereka berkata : Ya, benar kami menyaksikan sesungguhnya engkau Rasulullah! Nabi bersabda : Tidakkah kamu sekalian mengetahui bahwasanya barang siapa yang taat kepadaku maka sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa taat kepada Allah maka sudah taat kepadaku. Mereka berkata : Ya benar, kami menyaksikan bahwa sesungguhnya siapa saja yang taat kepada engkau maka dia sudah taat kepada Allah, dan barang siapa yang taat kepada Allah maka dia taat kepadamu. Nabi bersabda sesungguhnya orang yang taat kepada Allah maka dia mentaati aku, dan orang yang taat kepadaku maka hendaknya mentaati imam kalian. Jika imam salat duduk maka kalian hendaknya salat duduk. 

 

Posted on Juli 7, 2007, in Babussalam News. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: