Khawatir dan Gembira

picture1.jpg

(Kisah ini ditulis oleh seorang muballigh yang ditugaskan ke Solok Selatan, Sumatera Barat pada tahun 2006. di sana telah berdiri SMP Plus Babussalam. Sekolah gratis pertama yang dimiliki oleh Babussalam di luar Jawa)Solok selatan adalah nama sebuah Kabupaten, pemekaran dari kabupaten Solok yang terdapat di Sumatera Barat. Terdapat lima kecamatan.dikenal juga dengan sebutan seribu rumah gadang. Karena di sana rumah-rumah gadang masih sangat banyak tersisa. Solok Selatan merupakan daerah pengunungan yang ketinggiannya kurang lebih 900 Km diatas permukaan laut. Babussalam Cabang Solok Selatan berlokasi di Jorong Pekonina, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan. Tepat di persimpangan jalan atara jalur Kerinci dan Padang.

 

Ketika saya mendengar bahwa saya akan dikirim sebagai guru di Solok Selatan saya bertanya-tanya mengapa saya yang dikirim, padahal banyak ustad yang lebih berpengalaman dibanding saya. Tapi sayapun tidak begitu ambil pusing dengan pertanyaan itu. Saya lebih dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain, bisakah saya berdakwah di sana, karena saya hanya lulusan Pesantren Babussalam? Bagaimana saya bisa hidup di sana dan bagaimana keadaaan di sana. Pertanyaan-pertanyaan itu dan pertanyaan lainya berkecamukdi benak saya, menggedor benteng pertahanan diri saya. Hal itu membuat kekhawatiran saya menjadi jadi

Saya tidak tahu di belahan benua mana Muara labuh itu. Di Bandung adan daerah yang bernama Muara Rajeun. Tapi tentu daerah itu tidak dekat Muara Rajeun. Walaupun saya ada darah sumatera (marga saya adalah tanjung. Artinya saya berdarah batak. Tapi saya tidak pernah ke luar jawa. Boro-boro ke luar jawa ke luar bandung saja saya jarang. Paling juga pulang ke kampung ibu di Cicalengka.

Di tengah kekhawatiran yang menggumpal itu, terselip juga rasa bahagia. Karena itulah pertama kalinya saya bisa naik kapal laut. Sejak dulu saya bercita-cita naik kapal laut. Seperti lagu yang sering saya lagukan ketika kecil “nenek moyangku seorang pelaut”. Saya terobsesi dengan lagu tersebut untuk dapat pergi berlayar.

Dalam benak saya kapal yang akan saya naiki semewah Titanic di film yang pernah saya tonton. Tapi ternyata gambaran itu jauh meleset. Karena fery yang saya tumpangi umurnya saya perkirakan 60 tahun. Jelas lebih tua dari saya. Kondisinyapun amat menyedihkan. Besi-besi yang sudah berkarat, tempat duduk yang sudah pada rusak. Wc yang tidak ada airnya dan yang paling menyiksa adalah lambatnya perjalanan, seperti seorang nenek tua renta yang berjalan di tengah lautan. Membawa beban hidup yang sangat berat. Menurut saya harusnya kapal seperti itu sudah diganti dengan yang lebih baru dan baik.

Perjalanan yang kami tempuh dari Bandung ke Solok Selatan dengan menggunakan bis selama dua hari dua malam atau 48 jam jika menggunakan pesawat hanya 1 jam perjalanan. Kami lebih sering menggunakan bis walau lelah tetapi kami terobati oleh pemandangan tanah Sumatera yang masih banyak hutan, di perjalanan kami menemui bis lain yang satu tujuan dengan kami mengalami kerusakan, kaca sebelah kiri pecah karena ada yang melempar dengan botol dan ada yang terluka. Kata orang memang kejadian itu sering terjadi karena jalan lintas masih rawan dan banyak pembajakan, baik bis, mobil pribadi, terutama kendaraan bermotor sering ada yang merampok. Dalam perjalanan pun kami merasa khawatir, tapi kami yakin karena niat kami baik pasti kami diselamatkan, alhamdulillah kami selamat dalam perjalanan. Saya datang Muara Labuh!

Di tempat baru ini, kami harus beradaptasi dengan berbagai hal. Bahasa karena bahasa yang dipakai adalah bahasa minang, memang sebagian dapat berbahasa Indonesia akan tetapi ada beberapa orang yang ketika kami berdakwah dapat berkomunikasi dengan kami Selama disana kami harus berusaha keras untuk beradaptasi terutama dengan makanan, karena hampir setiap hari memakan makanan yang pedas sampai dua minggu saya sakit perut dan panas dalam karena tidak biasa makan makanan khas sumatera barat. Tapi akhirnya saya terbiasa dengan itu semua.

Orang-orang di sana ramah-ramah mereka sangat antusias dengan adanya pesantren di daerah mereka karena di sana sangat asing dengan pesantren, mereka ingin anak-anak mereka dapat mempelajari agama islam secara kafah. Medan dakwah kami mencakup hampir seluruh kabupaten solok selatan dengan mengadakan acara temu ulama se-solok selatan disana kami mengenal tokoh-tokoh agama sekitar. (Azhary W. Tanjung)

 

Posted on Juni 15, 2007, in Kisah Da'wah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: