Membangun Jejaring di Pesisir

Rendahnya kepedulian terhadap pembinaan generasi muda di kawasan pesisir, menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi pendiri sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Alquran Babussalam, KH Muchtar Adam. Berasal dari kawasan pesisir di Selayar, Sulawesi Selatan, membuat mantan anggota DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini berkeinginan memberdayakan pemuda pesisir dengan pesantrennya. Kini, usaha yang dirintisnya mulai berhasil. Dengan menggandeng Departemen Pendidikan Nasional, Ponpes Babussalam yang berlokasi di Ciburial, Dago, Bandung ini membuka beberapa cabang pesantrennya di lima daerah, yaitu di Pulau Selayar di Sulawesi Selatan, Pulau Wanci di Wakatobi Sulawesi Tenggara, Pulau Alor di Nusa Tenggara Timur, Solok Selatan di Sumatera Barat, dan Aceh Besar di Nanggroe Aceh Darussalam.

Menurut Ketua Bidang Pendidikan, Ponpes Babussalam, H Fahdlullah M Said, fokus utama dari pendirian ponpes di kawasan pesisir adalah untuk menggarap potensi masyarakat kelautan. Tak heran kalau fokus pengajaran di pesantren ini selain kepada pendidilan Islam juga pada ilmu kelautannya. ”Mereka akan kita didik agar memiliki aneka keterampilan, seperti mengolah hasil laut dan pengetahuan praktis lainnya,” jelasnya.

Bila lima pesantren di kawasan pesisir ini masih dalam tahap memulai, maka Ponpes Babussalam di Ciburial, Dago, Bandung sudah lebih dari dua dasa warsa berkiprah. Pesantren yang sudah berdiri sejak tahun 1980 ini telah menjadi salah satu pesantren yang berhasil menggabungkan kekuatan iman dan takwa serta ilmu pengetahuan dan teknologi (imtak dan iptek). Dengan total 300 siswa dari seluruh Indonesia, Ponpes Babussalam menggabungkan antara konsep tradisional dan modern dalam mengembangan pendidikan yang Islami.

Di tempat yang berudara sejuk di kawasan utara Bandung ini, para siswa bukan hanya belajar ilmu pengetahuan dan agama secara parsial, melainkan digabungkan. ”Ini dilakukan agar murid tahu kekuasaan Allah,”jelas Fahd. Karenanya, para guru yang ada di ponpes inipun dituntut untuk menguasai ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan umum, dan sebaliknya.

Selain itu, para siswa di ponpes Babussalam juga diwajibkan menghafal Alquran sesuai dengan tingkatan sekolahnya. Menurut Fahd, siswa SD minimal harus hafal Alquran satu juz, dan angka ini bertambah setiap kali siswa menaiki jenjang lebih tinggi yaitu SMP atau SMA. Untuk mendukung aktivitas di luar jam sekolah, para siswa yang rata-rata tinggal di asrama pesantren juga mengikuti aktivitas ekstrakurikuler seperti seni bela diri wushu, futsal, ceramah, nasyid, dan kaligrafi.

Siap mental menjadi dai
Ada satu program yang menarik di pesantren ini, yaitu Program Mubaligh Hijrah (PMH). Dalam program ini, santri diwajibkan memberikan ceramah di beberapa pengajian. Program yang biasanya digelar selama bulan suci Ramadhan ini bertujuan untuk melatih mental dai dan daiyah muda Babussalam agar siap terjun ke lapangan untuk membina umat.

Dalam bidang dakwah, pesantren ini memang cukup maju. Secara khusus pondok pesantren ini bekerjasama dengan RRI Bandung untuk menyiarkan program yang dinamakan Taman Alquran. Program ini mengudara setiap hari selepas shalat Maghrib menjelang shalat Isya, menghadirkan materi tajwid, tafsir Alquran, hingga ke persoalan fikih dan hukum Islam.

Menurut kepala bidang dakwah ponpes Babussalam, Hj Intan Rosmadewi, tujuan penyelenggaraan acara ini semata-mata demi syiar Islam dan pemberantasan buta huruf Alquran. Menurutnya, selama ini fokus dakwah seringkali tidak menjangkau daerah-daerah terpencil. ”Sehingga kita harapkan program ini bisa menjangkau mereka yang tinggal di pedesaan ataupun di perbatasan,”jelasnya.

Program ini, kata Intan, diharapkan bisa menjadi pencerahan bagi umat Islam di daerah terpencil sekaligus bisa menghalau upaya pemurtadan. ”Tidak dapat dipungkiri, pemahaman agama yang minim ditambah kesulitan hidup menjadikan umat Islam rawan dimurtadkan,”jelasnya.

Karena itu, meski tidak rutin Ponpes Babussalam juga menggelar pelayanan medis gratis bagi warga kurang mampu di seputar Kabupaten Bandung. Di bidang usaha, pesantren ini juga bekerja sama dengan para peternak lebah dan peternak sapi di sekitar Jawa Barat. Para peternak ini membudidayakan hewan mereka dan hasilnya dijual oleh Ponpes Babussalam.

( uli )

Posted on Juni 11, 2007, in Babussalam News. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: